Warung Puisi

Warung puisi adalah kumpulan para blogger penyair-penyair Indonesia dari pemula sampai yang profesional semua tersedia disini.
Bagi yang berminat untuk bergabung dengan Warung Puisi silahkan daftarkan diri ke Warung Puisi. Anda akan menikmati dunia puisi dari para penjuru penyair Indonesia.
Dalam Warung Puisi juga tidak ketinggalan salah satu teaterwan Indonesia yang sudah cukup malang melintang dalam dunia teater, aksi teaternya tidak hanya didalam negri namun juga kiprahnya melanglang ke berbagai di negara luar. Beliau adalah Kurniawan Yunianto yang beberapa puisi-pusinya bisa ditemukan di harian Kompas .
Berikut adalah beberapa karya puisi dari Kurniawan Yunianto:
SEBUAH PERJALANAN TERHENTIKAN
sepanjang perjalanan ke rumah mu
ditemani oleh butirbutir debu
betapa terasa kesetiaannya pada udara kering
berputarputar melayang berloncatan menggelinjang
sekian lama
pada akhirnya diceritakan pula segenap peristiwa
mereka yang lalulalang
terengahengah, dengan nafas kering yang baunya menyengat
tertatihtatih, dengan langkah tak karuan arah
ada yang tak sabaran dengan tas besar di kedua tangan
bergegas entah kepada siapa
satu niatan telah diupayakan terjaga
tapi setelah tikungan terakhir sekian jengkal dari alamat tujuan
ada kubangan air sisa hujan kemarin yang belum sempat menguap
tercermin di permukaannya segala beban yang kemudian terasa memberat
bikin termangu
terlebih ketika muncul wajahmu
di permukaan kubangan air berkerut
yang tibatiba saja kusangka laut
lelah yang sangat,
entah sampai kapan segenap tenaga kembali terserap
beginilah seringkali banyak perjalanan terhentikan dibuai harap
GUSTI YANG MANA, TUHANNYA SIAPA
saatsaat penghormatan
saatsaat rasa terimakasih dilantunkan
mantra puji puja aroma bunga dupa
menyatu pada malam
: di atas pusara di atas makam
pada batubatu nisan
terselip keinginan dan harapan
hampir selalu dan nyaris semua
di selasela riuh yang menggemuruh
: kenapa tapi malam ini, kau bikin keruh
mereka sedang senang melakukannya
meski kenyataan belum juga tiba
meski kau kata siasia
ya … barangkali saja
kerna tuhan mu tak berada di sana
dan bukankah kau juga Tak Pernah tahu
gusti yang Mana yang mereka temu
: Oii …. betapa … sungguhsungguh menjelma Dusta
MAKHLUK BERTANDUK PENUH SUKACITA
langit nyaris tak berawan
kuning bersemburat jingga kemerahan
semilir angin perlahan menghela mentari ke peraduan
di halaman depan
mobil motor lalulalang
bayang pepohonan bergerak berlawanan
sesekali bertubrukan
bikin perasaan benarbenar rawan
di panjang rentang penantian
akhirnya ada juga yang datang
dengan palu besi tergenggam tangan
tidak kemudian dihatamkan
tapi perlahanlahan
dengan segenap hati
ia paksakan pelanpelan melesak
jauh ke dalam benak
dan membiarkannya begitu saja
berkarat di kepala
rasa rawan kini telah bertukarganti
dengan penuh santun dipersilahkannya
takut cemas dan waswas
kembali mukim dan mengeram lama di sini
: ke putus asa netas menanti tinggal menunggu hari
lalu makhlukmakhluk dengan dua tanduk di kepala
akan segera mengelilingi
sabar menunggu tetapi penuh sukacita
TARIAN CINTA
tarian cinta memeluk lekap sekalian jiwa lelap
selain pukau yang terasa tak ada lagi yang tersisa
nyaris tiap gerak tubuh tak ada yang siasia
sebuah tarian telah menjadi saksi bagi para pencinta sejati
penaripenari yang telah berhasil melupakan
tiap gerak yang pernah dilakukan
SAAT MATI TINGGAL SEHARI
Serupa mengulum segenggam garam
tak kuasa menebar senyum supaya hati kembali tentram
melebam sudah di wajah
nyaris karam, padahal telah jauh ke tengahtengah
ke meyakini
bahwa saatsaat mati tinggal sehari tak bisa ditukarganti
Salam Puisi,
JengSri